aku tidak ingin bilang, kau takkan bisa hanya saja, cobalah untuk tidak hanya berkata cobala untuk tidak sekedar meniru cobalah untuk t...

seperti tokoh utama

aku tidak ingin bilang, kau takkan bisa
hanya saja,
cobalah untuk tidak hanya berkata
cobala untuk tidak sekedar meniru
cobalah untuk tidak sekedar coba-coba
kau ingin seperti di dalam novel itu, bukan?
punya mimpi, dan terwujud
kau ingin jadi tokoh utamanya kan?
semua sama,
dan, apa kau ingat?
bukan hanya apa yang ada di awal dan di akhir cerita saja
pertengahannyalah yang utama
tentang bagaimana, dan seberapa susahnya,
karena ada mimpi, akan ada usaha
karena ada usaha, akan ada akhir bahagia

0 opini:

Untaian kisah yang bisa membuat semangat dan motivasi kita sebagai muslimah bangkit, Mari bangkit bersama! Kisah saya kutip dari bu...

Kisah Inspiratif Buat Para Muslimah


Untaian kisah yang bisa membuat semangat dan motivasi kita sebagai muslimah bangkit,
Mari bangkit bersama!

Kisah saya kutip dari buku ‘Membentuk Muslimah Militan’ oleh Najib Khalid Al-‘Amir

Kisah 1: Siapa yang Lebih Aku Taati?
Suatu hari, seorang gadis kecil baru saja pulang sekolah. Sesampainya di rumah, sang ibu melihat wajah ananknya murung, lalu sang ibu segera menanyakan apa yang membuat anaknya sedih. Lalu gadis kecil itu menjawab, “Wahai ibunda, ibu guru telah mengancam akan mengusirku dari sekolah, karena pakaian panjang yang aku kenakan ini.”

Sang ibu menjawab dengan penuh kasih sayang,
 “Wahai putriku,  bukankah pakaian yang kau kenakan ini yang dikehendaki Allah, wahai putriku?”

Sang gadis menjawab, “Benar ibunda, tetapi mengapa ibu guru tidak menghendakinya?”

Ibunya berkata lagi, “Baiklah anakku, ibu guru tidak menghendakinya, tetapi Allah menginginkannya. Lantas, siapa yang kamu taati? Apakah kamu menaati Allah yang menciptakanmu, mecantikkan wajahmu, dan telah memberi nikmat kepadamu? Ataukah, kamu menaati makhluk yang tidak memiliki sesuatu manfaat ataupun bahaya untuk dirinya sendiri?”

“Tentu aku akan menaati Allah SWT,” gadis kecil itu menjawab dengan keluguannya.

Kemudian sang ibu menjawab sambil memujinya, “Bagus, dan benarlah kamu, wahai putriku.”

Esoknya sang gadis kembali ke sekolah dengan tetap mengenakan baju panjang (jilbab). Ketika ibu gurunya melihat sang gadis, ia mencaci maki gadis itu dengan kasar. Sang gadispun tidak berdaya menghadapi caci maki itu yang juga diiringi oleh pandangan teman-temannya, maka tak ada yang ia lakukan selain menangis.

Kemudian gadis itu mengucapkan klimat yang singkat tetapi memiliki makna yang agung,  “Demi Allah, saya tidak mengetahu siapa yang lebih aku taati, ibu atau Dia?”
Sang ibupun bertanya keheranan, “Siapakah Dia yang kamu maksud?”
“Dia adalah Allah. Apakah aku akan menaati ibu dengan berpakaian seperti yang ibu kehendaki, senhingga aku mendurhakai-Nya? Ataukah, aku menaati-Nya dan durhaka kepada ibu? Aku akan menaati-Nya SWT, dan biarlah apapun yang terjadi,” jelas murid itu.
 Betapa indah dan menyentuhnya kata-kata yang diucapkan seorang gadis cadel, yang menunnjukkan ketaatannya perintah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.
Tapi, sang ibu guru tidak diam saja, ia lantas memanggil sang ibu gadis itu lalu berkata,
“Sungguh, putrimu telah memberikan nasihat kepadaku dengan nasihat terbesar yang pernah kudengar seumur hidupku.”
Benar sekali sobat, ibu guru itu menerima nasihat yang diberikan oleh  muridnya yang masih kecil. Padahal tentu saja sang ibu guru telah banyak mengenyam banyak pendidikan. Tapi ternyata, seorang wanita yang ilmunya lebih tinggi, tidak mengalanginya untuk menerima nasihat yang diberikan oleh muridnya. Juga kita ucapakan selamat pada sang gadis kecil dan ibu guru yang telah mendapatkan tarbiyah islamiyah dan berpegang teguh dengan itu. Tak lupa, selamat untuk sang ibu gadis kecil yang telah berhasil menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dalam diri anak gadisnya.


Kisah 2: Dimana Letak Kebahagiannya?
Jika ditanya, dimana letak kebahagiaan itu? Apakah pada gelimangan harta? Atau pada tingginya pangkat?
Memang jawab atas pertanyaan ini relatif. Namun, mari kita lihat indahnya sebuah kebahagiaan pada diri waniita yang satu ini, kebahagiaan yang sederhana, tapi sulit mempertahankannya jika kita masih susah untuk mengesampingkan masalah duniawi yang tidak bermanfaat.
Pernah terjadi sebuah perselisiahan antara istri dengan suaminya
Suaminya berkata, “Sungguh, aku akan membuatmu menderita,”
Sang istripun menjawab dengan tenang dan lantang, “Kamu tidak akan mempu melakukannya.”
“Mengapa demikian?”
“Andai kebahagiaan itu pada harta, tentu kamu bisa menghalangiku darinya, dan andaikan pada perhiasan, tentu kamu  bisa menjauhkannya dariku. Akan tetapi kebahagiaanku sesuatu yang tidak kamu miliki dan tidak dimilii orang lain. Saya temukan kebahagiaan itu pada keimananku, keimanan dalam hatiku. Tidak ada yang bisa menguasi hatiku melainkan Tuhanku.”

Inilah saudariku, inilah kebahagian yang hakiki, sebuah kebahagian itu di dasarkan oleh keimanan. Tiada seorangpun yang sapat merasaknnya, melainkan orang yang di dalam hati, jiwa, dan pikirannya.
Sebenarnya, tentu saja masih banyak lagi kisah-kisah yang membuat kita termotivasi, membuat kita sadar bahkan terenyuh, asalkan kita mau sedikit berusaha untuk mencari tahu, tapi kalau di zaman sekarang, tinggal klik! Kita bisa mendapatkan informasi yang kita tahu. Karena itu, jangan bilang kalo kagak ade waktu buat baca-baca siroh, dsb. Sedangkan sekedar untuk ngeliatatau nungguin  mention di twitter aja rela ampe berjam-jam.

11 opini:

Kamu yang ke-