Terkantuk-kantuk menyisakan beberapa slide terakhir untuk dipelajari. Cara biasa untuk bangun sudah tidak mempan, Ah, ini artinya memang h...

Edan Maryam

Terkantuk-kantuk menyisakan beberapa slide terakhir untuk dipelajari. Cara biasa untuk bangun sudah tidak mempan, Ah, ini artinya memang harus menggunakan cara ampuh yang satu itu. 

Wkwkkwk, belakangan menulis untuk kemudian dibaca orang-orang memang membutuhkan keberanian lebih, tapi sebaliknya, sore ini saya menggunakan semua ketakutan yang melempar saya kembali di sini.

Bukan menulis yang membuat saya tiba-tiba jadi tidak mengantuk lagi (tentu saja, selama ini menulis merupakan salah satu treatment saya untuk tidur).

Pernahkah berpikir, seberapa banyak rasa sakit yang dibutuhkan seorang saya yang tukang tidur untuk bangun dalam sekejap saja? Sayangnya, tidak banyak sejujurnya. Satu rasa sakit sudah melampaui cukup.

Satu yang dalam, tajam, dan tertanam. 

Menyedihkan memang, cara saya untuk tetap terjaga adalah dengan berharap agar saya bisa tidur dengan semua rasa sakit ini. Sayangnya, si sayang kesayangan ini akan terus menggelayuti saya sehingga saya tidak bisa tidur. Tidak ada yang bisa menidurkan semua rasa yang sudah lelah ini. Ketika saya berpikir si sayang ini sudah pergi, ternyata dia tidak kemana-mana. Tidak pernah kemana-mana. Ah, sayang! (Karena itu saya berinisitif, daripada hal ini menjadi sesuatu yang negatif terus menerus, semua rasa sakit ini bisa berguna juga untuk saya ketika memang saya tidak seharusnya tidur, paham? Ah saya juga tidak begitu)

Jauh, jauh sekali sebelum ini saya sudah melakukan semacam treatment bagi diri ini untuk siap menghadapi saat-saat yang membuat semua orang bahagia (keywords: kau, dia, bahagia) karena itu artinya tentu saja, saya akan bergelut dengan sulur-sulur yang kian mengikat saya erat untuk tidak keluar dari semua kenestapaan.

Sebagai bukti, berikut saya lampirkan tulisan saya ketika dulu saya menyadari ini:


Saya jadi teringat dan menafsirkan secara bebas perkataanmu waktu itu, kau inginnya aku segini saja. Ah saya senang sekali menafsirkan ini sebagai kau yang ingin memberhentikan waktu bersamaku. Saya ingin mencari celah di antara semua ini.

Saya orang yang arogan, jelas.  Karena itu, hendaknya Saudara memahami ketika saya berkata bahwa saya orang yang mempunyai pikiran jauh, mempersiapkan segala hal dengan rapi, tidak usah Saudara terlalu percaya, karena si saya yang arogan itu hanya membual, bahkan belakangan si saya ini mulai ngelantur

Jadi memang ketika semua tidak sesuai prediksi saya, ketika saya paham betul bahwa si sayang ini tidak boleh memenuhi semua ruang di hati saya, maksud saya, meskipun saya akan remuk, masih ada kepingan besar yang akan saya genggam kelak (saat itu saya meyakini ini akan berhasil) dan ternyata fakta lapangannya, kerusakan ini tidak menyisakan barang satu kepingan untuk saya pegang, saya bingung juga kemana semua itu pergi? 

Ah tapi siapa peduli,

Padahal, jika saya tahu maksud Anda saat akhir tahun itu adalah perpisahan saya mungkin akan skip ujian. Hahaha, jadi sebenarnya bagus saya tidak mengetahui itu.

Nah, satu lagi, saya juga terbiasa berkejar-kejaran dengan semua rasa sakit. Seringkali saya menang, sehingga efeknya saya bisa menikmati kemenangan di depan orang-orang dengan tersenyum. Tapi kali ini, bahkan sebelum berkejaran, saya sudah tidak bisa bergerak, Hahahaha! Payah sekali saya. Dan itu artinya, saya juga tidak bisa berpura-pura menang di atas semuanya.

Kali ini, tuan, saya benar-benar kau habisi. 

Lalu malam tadi saya menelpon seorang sahabat, menangis-nangis, tersedu-sedu, sampai pagi ini saya kembali ke titik dimana saya bangun dengan semua rasa pusing yang entah.

"Ya, memang tidak akan secepat itu. Berbaikan dengan rasa tidak pernah punya cerita yang pendek. Hargai saja, Akui saja, kau kalah."

Ah saya memang enggan sekali mengakui kekalahan. Kau tau benar itu, kan, tuan? Maksud saya, ketika saya di sini bahkan tidak bisa kemana-mana dan kau kian melalang buana, tidak apa-apa, baik-baik saja, dan semua hal baik yang kau alami, dan bahkan tanpa terlintas aku di sana (Ah, memang dari awal saya bukan siapa-siapa untuk kemudian seberharga itu melintasi ruangmu) pada kondisi seperti saya masih harus mengakui kekalahan saya?

Ah, sungguh serakah! 

Sebentar, ada tulisan masuk, tentu saja saya tidak akan mengakui ini saya yang menulis, sok sok an berani menulis dengan bahasa Inggris dalam bentuk sajak dengan semua grammar yang acakadul bukanlah style saya. Tapi saya mau melampirkan ini juga:



Tapi, tuan, saya benar-benar butuh jawaban Anda, pertanyaan terakhir saya yang belum kau jawab membuat saya seperti bayi yang belum di akikah. Mengawang-ngawang. Meskipun kemungkinan kau membaca ini adalah kemustahilan, barangkali ada sayup-sayup yang membuatmu sedikit gelisah hari ini. Jawablah pertanyaan terakhir dari saya, saya (semoga untuk terakhir kalinya) mohon.  Anda kira saya main-main? Hah, padahal itu bukan lawakan, saya benar-benar bertanya yang kemudian dari jawaban itu saya akan menentukan arah saya. 

Maksud saya, saya enggan menyimpulkan semua ini sendiri, karena saya sudah merasakan semuanya sendiri, senang sendiri, sakit sendiri, jadi meskipun saya akan tetap berjalan sendiri, saya mau itu dari Anda. 

Eh, iya, lupa saya, saya dapat teman main, Joko dan Andre namanya. Tapi sahabat saya bilang ini semua pelarian semata, padahal saya hanya bermain. Tapi sahabat saya tahu benar tentang saya (Bukan Anda saja)

Kesimpulannya, saya menyerah untuk tidak menyerah. Saya tidak baik-baik saja, saya kalah dan saya seumur hidup blog ini lahir tidak pernah menulis sepanjang ini. Selamat, kau menang (Bahkan saat kau tidak sadar bahwa semua ini ada, saat kau tidak berkompetisi, saat kau ah! frustasi saya) Kau menang. Saya enggan mengucap selamat yang lain, biar orang lain saja. Selamat.


Yang lain-lainnya saya akan tambahkan di kemudian waktu karena saya sudah harus benar-benar selesai.

1 komentar:

  1. setelah membaca ini, pesanku hanya satu. Sehat sehat disana ^_^

    BalasHapus

Kamu yang ke-